Saturday, August 20, 2011

antara cinta dan dusta, antara sby-demokrat-dan nazaruddin

kenpa antara cinta dan dusta,
cinta itu pure, putih, tak bersembunyi,tak saling mengadu, apa lagi mencaci
dusta?
kata kata "jancok" (kata  kasar di kota malang) tidak lebih hina menggambarkan arti dusta
dan kenapa masih sby?
dan selalu sby?
dan demokrat dibelakangnya, dan nazarudin bumbu manisnya.
mana yang dalang? pecundang? yang tahi?
percuma menerka, seperti menghempas udara di ujung hidungmu.
sangat dekat,sangat pekat, tapi abstrak


saya temukan sampah ini ,saat iseng membuka kotak hidup keajaiban tekhnologi

Jakarta, 18 Agustus 2011Bapak Susilo Bambang YudhoyonoPresiden Republik IndonesiaDi TempatBapak Presiden yang saya hormati,Saya mohon kepada Bapak agar segera memberikan hukuman penjara kepada saya tanpa perlu lagi mengikuti proses persidangan untuk membela hak-hak bagi saya. Saya rela dihukum penjara bertahun-tahun asalkan Bapak dapat berjanji Bapak akan memberikan ketenangan lahir dan batin bagi keluarga saya, khususnya bagi istri dan anak-anak saya.Perlu saya jelaskan bahwa istri saya adalah benar-benar seorang ibu rumah tangga yang sama sekali tidak mengetahui apapun yang berhubungan dengan kepartaian. Saya juga berjanji saya tidak akan menceritakan apapun yang dapat merusak citra Partai Demokrat serta KPK, demi kelangsungan bangsa ini.Demikian surat ini mohon bantuan dan perhatian Bapak Presiden.

saya cuma tertawa, miris.
mana yang jancuk? mana yang merana? mana yang sandiwara?
ibu..
apakah tanah yang orang bilang surga ini, ditakdirkan dihuni oleh orang brensek yang bisanya tawur. Waktu saya kecil, cita cita presiden itu mulia. memimpin negeri ini , seperti mewujutkan cinta pada tanah yang sungguh saya sayangi ini. Tapi sekarang hanya seperti posisi yang disalahkan akan adanya tsunami. Dicerca saat adanya orang lapar. Diminta pertanggung jawabannya saat adanya kemiskinan (presiden bukan tuhan)
tapi kalau memang nazrudin benar, betapa luka hatimu bu. yang mengandung tanah ini begitu lama, yang melihat rakyatnya tiap hari merana, sedang yang satu tertawa , makan uang yang bukan haknya,para tikus buluk busuk. ah ibu,
betapa sedihnya engkau.
seperti hatiku yang kian berantakan. mempertahan kan rasa cinta indonesia, 
tak ada yang menyuruh , tapi aku lebih jancuk lagi kalau membiarkan rasa ini hilang

indenesia, yang dengan  sedih aku cinta
di sana, tempat lahir beta..di buai,dibesarkan bunda. 
tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata

2 comments:

  1. Sepertinya semua orang sudah kehilangan kata-kata buat bangsa ini. Kamu bilang Jancok sekeras apapun, pun itu buang2 tenaga bukan.
    Tenang, jangan menyerah. Kita cuman tinggal tunggu bom waktu. Habis ini kacau sudah, revolution for fun. kita perlu chaos, sekali lagi

    ReplyDelete
  2. buang buang tenaga, buangbuang harga diri, tapi juga membuang racun dalam tubuhmu, racun hati,
    nyalakan apinya sam ulul :)

    ReplyDelete